Kesaksian saya (1)
Written by Administrator   
Wednesday, 07 January 2009

      

            Image    

 

 A. Kesaksian saya (1)

Pada awal bulan Maret tahun 2007, saat sedang mengerjakan thesis / penelitian saya untuk meraih brevet dokter spesialis penyakit dalam, di Denpasar - Bali, saya tiba-tiba mengalami nyeri dada kiri yang hebat. Nyeri itu menjalar ke lengan kiri, rasanya seperti ditindih disertai rasa panas. Nyeri berlangsung terus menerus dan tidak membaik dengan perubahan posisi dan beristirahat. Sebagai seorang dokter, saya merasa nyeri tersebut seperti serangan jantung koroner, lalu saya berusaha mencari pemeriksaan dan pengobatan, tapi tidak ada bukti yang jelas bahwa saya menderita penyakit jantung, dan obat penghilang nyeri apapun yang saya minum tidak menghilangkan nyeri tersebut, hanya sekedar mengurangi sedikit. Lalu saya melakukan rontgen dada, khawatir adanya kanker paru-paru yang juga bisa menyebabkan rasa nyeri, ternyata tidak terbukti saya menderita kanker paru.

Rasa nyeri tersebut semakin bertambah intensitasnya dari hari ke hari, saya tidak dapat tidur malam dan harus meminum obat yang merupakan derivat (keturunan) narkotika / morfin. Itu pun tidak banyak menolong, hanya mengurangi sakit selama 2-3 jam saja, lalu kumat lagi, sementara obat itu tidak boleh untuk diulang-ulang terus menerus, karena efek samping depresi pernafasan. Saya sudah meminum sampai 5-6 macam obat penghilang nyeri, termasuk obat anti inflamasi yang berpotensi besar seperti deksametason dosis tinggi sekali (6 tablet 0,5 mg sekali minum), bahkan saya minum obat penurun reaksi pengeroposan tulang (osteoporosis) yaitu risendronate, karena saya berpikir, mungkin ini lesi osteolitik karena osteoporosis atau karena kanker tulang.

Semakin lama arah diagnosis penyakit semakin kabur, saya semakin bingung, tetapi saya menolak untuk dirawat di Rumah Sakit, karena saya khawatir, saya di diagnosis kanker. Saya belum mau terima jika penyakit itu yang terjadi. Saya ingin segera selesai sebagai spesialis dulu, kalaupun saya akan mati, biarlah saya mati sebagai dokter spesialis karena perjuangan, bukan cuma sekedar sebagai dokter spesialis Anumerta (Ha..ha..ha…).

Saya menulis beberapa sms untuk istri dan mama saya, tetapi hanya saya save dan tidak jadi saya kirim. Saya takut mereka akan menjadi cemas dan datang ke Bali serta memaksa saya masuk RS. Sempat juga saya telefon istri saya dan mengatakan saya sakit, tetapi  karena suara saya biasa-biasa saja, tidak seperti orang sakit atau menahan sakit (itulah anehnya penyakit ini), maka istri saya mengira bahwa sakit saya tidak serius. Saya tidak ingin membuat istri saya panik dan mengganggu kerjanya di Jakarta.

Sejak awal Maret itu sampai tanggal 19 Maret saya tersiksa dengan sakit yang luar biasa itu.  Saya memang sudah jarang tugas di RS, karena diberi waktu untuk menyelesaikan thesis.

Tanggal 19 Maret saya tidur di kamar dokter jaga RSUP Sanglah-Denpasar, karena saat itu adalah hari raya Nyepi, dimana kita tidak boleh keluar rumah, dan tak ada tempat makan yang buka. Tetapi di RS aturan tersebut tidak berlaku, sehingga saya mengungsi ke RS agar bisa makan (He…he…he…). Malam itu saya sangat menderita sekali, tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan saya mulai merasa sesak nafas. Para junior saya, dokter jaga, sibuk di UGD dan Bangsal, karena justru di hari Nyepi, itu banyak pasien. Saya berdoa dan berdoa, tetapi tidak ada jawaban Tuhan, lalu saya sms “Solusi” penyelenggara acara Rohani Kristen di SCTV yang stand-by 24 jam. Puji Tuhan mereka terus menghibur dan mendoakan saya, serta mengirim ayat-ayat Firman Allah pada saya. Mereka mengatakan melalui sms bahwa mereka telah mendoakan saya dan mereka yakin bahwa saya akan sembuh, mereka minta saya menunjukkan iman saya pada Tuhan Yesus. Saya malah sudah ngawur betul dan meng-sms “Solusi” dengan kata-kata mengenai mati, bahkan dengan kata-kata Tuhan Yesus di kayu salib : “ Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”. Sepanjang malam saya tidak dapat tidur dengan baik, minum obat tiap 2-3 jam, duduk.di tempat tidur (jika tidur berbaring, saya sesak). Herannya teman-teman dokter tidak melihat ada yang mengkhawatirkan pada saya, padahal saya sudah merasa sekarat. Herannya juga, saya tetap tidak mau minta diperiksa intensif dan dirawat.

Pada pagi harinya, tanggal 20 Maret saya pulang ke tempat kos saya. Rasa sakit makin hebat, dan rasanya jari-jari tangan kiri saya semakin susah digerakkan. Rasa sesak semakin menyerang (herannya saya bisa pulang jalan kaki). Sesak semakin berat dan tak tertahankan lagi, lalu saya mengambil gitar saya dan berusaha menyanyi  memuji Tuhan meskipun dengan tersengal-sengal, terutama lagu-lagu “untuk orang yang akan meninggal” seperti lagu “ Nearer My God to Thee” dan lagu “Berserah kepada Yesus” (aku berserah…aku berserah…)Karena saya merasa akan meninggal, entah bagaimana, saya mengakui seluruh dosa saya. Saya menangis hebat, minta ampun untuk seluruh dosa saya, dan saya meminta Tuhan Yesus memberikan kesempatan kepada saya untuk tetap hidup dan diizinkan menjadi alat-Nya, serta berjanji untuk tidak mengulang dosa-dosa yang sudah saya akui dan mau hidup baru didalam Tuhan. Saya tersungkur dan bersujud menyembah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Lalu saya mulai menyanyi dan memuji Tuhan kembali, meskipun tangan saya sakit sekali. Tiba-tiba saya merasa terkena aliran listrik pada dada kiri saya, di tempat yang sakit. Zzzttt…..ttt...!!!....Tidak terasa menyengat hebat, hanya seperti kita terkena strum ringan saja. Lalu seketika itu juga rasa sakit saya jauh berkurang, tidak hilang semua, tetapi dada saya terasa enteng dan tidak sesak nafas lagi. Saya tersungkur kembali memuji dan menyembah Allah. Haleluya…haleluya…haleluya…Saya berlinangan air mata mengucap syukur pada Allah. Saat itu juga saya digerakkan oleh suara hati saya (itulah suara Roh Kudus) untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Pribadi saya dan menyerahkan seluruh hidup saya kepadaNya (meskipun kenyataannya saya seringkali jatuh bangun dalam pergumulan iman dan sering minta agar hidup saya agar dikembalikkan kedalam penguasaan kedagingan seperti dulu lagi). Pagi itu saya dapat tidur dengan nyenyak sampai sore. Saat bangun, rasa sakit tidak terlalu mengganggu, meskipun demikian obat tetap saya minum.

Malamnya saya digerakkan untuk ke warnet dan saya mencari dengan keyword “Chest Pain” di Google. Dari sekian banyak penyebab chest pain, entah kenapa (sekali lagi, inilah hikmat dari Roh Kudus) saya memilih Herpes Zooster. Ternyata ada varian Herpes Zooster yang bernama Zooster Sine Herpetae alias Zooster tanpa bintik-bintik gelembung merah yang sangat nyeri, yang mungkin juga sudah saudara ketahui. Varian ini sangat jarang (1 dari jutaan kasus  herpes Zooster). Varian ini dapat menyerang saraf-saraf otonom besar di dalam rongga dada dan menyebabkan rasa sakit yang hebat serta dapat membuat  pernafasan terhenti maupun menghambat denyut jantung. Pembuktiannya sangat sulit. Fasilitas diagnosis varian ini mungkin hanya ada di negara-negara maju (USA dan Eropa Barat). Sampai sekarang saya tidak dapat membuktikan diagnosis varian Zooster tersebut. Tapi dalam pikiran saya, terbersit bahwa saya harus minum obat anti Zooster (Acyclovir). Saya kemudian meminum obat tersebut sampai beberapa waktu (secara logika hal ini sangat bodoh dan berbahaya sekali karena walaupun diagnosisnya tidak pasti, tetapi saya berani minum obat itu. Saya yakin sekali waktu itu) dan ternyata saya sembuh total. Haleluya, Pujilah Allah kita yang Maha baik itu.

Tuhan Yesus menyembuhkan dengan kuasa Roh Kudus, baik secara natural oleh tabib seperti yang disebutkan-Nya dalam Markus 2:17, maupun secara supra natural, melalui mujizat seperti yang sering dilakukan-Nya: Mark 1:40-42.

Saya mengalami kasih Tuhan dengan mendapat kesembuhan melalui Mujizat / kuasa supra natural-Nya (jamahan Tuhan pada dada saya yang sakit) dan Hikmat dari-Nya (mengetahui penyakit apa yang terjadi pada saya saat mencari jawaban di Internet). Tetapi sebenarnya yang terjadi pada saya adalah MUJIZAT TERBESAR, yaitu KESELAMATAN JIWA OLEH KASIH TUHAN YESUS KRISTUS (Luk 15:1-32). Itu JAUH LEBIH BESAR DARIPADA MUJIZAT KESEMBUHAN FISIK YANG SAYA ALAMI. Haleluya! Tuhan Yesus Kristus memang datang untuk menyelamatkan jiwa-jiwa pendosa seperti saya dan anda. Karena kita sejak semula telah ditentukan oleh Bapa untuk menjadi milikNya melalui Tuhan kita Yesus Kristus (Yoh 17:6-26; Gal 5:13; Ef 1:4; 1 Tes 5:9; 2 Tim 2:19). Puji Tuhan! Ia Maha Baik dan Maha Kasih serta Maha Setia selama-lamanya!

Saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah berdosa lagi, sebaliknya saya sering jatuh bangun di dalam dosa dan lemah iman, bahkan saya sering minta pada Tuhan Yesus untuk mengembalikan hidup saya yang lama yang berlumur dosa dan penuh sifat kedagingan serta keduniawian, tetapi Tuhan Yesus memegang erat tangan saya dan membimbing saya dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Dosa saya dibasuh oleh Darah Yesus Kristus yang Kudus. Semakin hari semakin disempurnakan (Mat 5:48; Ibr 5:9) untuk semakin menyerupai Kristus, berkarakter seperti Dia (2 Kor 3:18; Ef 4:24; Kol 3:10)

Demikianlah kesaksian saya tentang awal pertobatan dan mujizat yang saya alami. Di lain waktu saya akan sampaikan kesaksian saya tentang pelayanan kesembuhan Ilahi oleh hamba Yesus, Peter Youngren, di Bali dan kesaksian saat saya memulai pelayanan terhadap para pasien rawat di Rumah Sakit. Semua yang saya sampaikan ialah hal yang benar. Semua hanya untuk kemuliaan nama Bapa, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Haleluya! Gloria! Hosana! Amin.

 

…….Dan mereka mengalahkan dia (iblis) oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian mereka…….. (Wahyu 12:16a)                

Last Updated ( Sunday, 08 December 2013 )